Rumah Sarni ada di ujung gang tanah di Kabupaten Bogor, tepat di titik di mana peta digital menyerah dan menyerahkan segalanya kepada tanya-jawab warga. Rumah papan separuh tembok, jemuran di teras, dua anak SD yang seragamnya dicuci terlalu sering sampai warnanya menyerah. Maharani datang mengaku dari lembaga survei keselamatan kerja angkutan, membawa map dan bingkisan minyak goreng — penyamaran yang ia pilih karena lembaga survei adalah satu-satunya tamu yang tidak pernah dicurigai dan tidak pernah ditolak orang miskin.
Sarni menerimanya dengan teh manis dan kursi terbaik. Perempuan itu tiga puluh delapan tahun tapi tangannya tangan lima puluh tahun: sejak suaminya mati, ia mencuci pakaian tetangga dan menerima pesanan kue. Tidak ada uang asuransi. Tidak pernah ada.
"Asuransi?" Sarni menggeleng, hampir tersinggung. "Mas Karsana itu orangnya paling anti utang, Mbak. Beli panci saja mikir setahun. Mana berani dia utang premi. Lagian siapa yang mau asuransikan sopir? Kata orang kantornya dulu, sopir itu hidupnya di jalan, asuransi mahal."
Maharani mencatat pura-pura di mapnya sementara sesuatu di dadanya mengeras. Delapan miliar. Nyawa lelaki itu dihargai delapan miliar oleh orang asing di ruangan ber-AC, dan jandanya mencuci pakaian tetangga karena tidak tahu kertas itu pernah ada. Inilah arsitektur kejahatan yang sesungguhnya: bukan pistol, bukan racun — hanya ketidaktahuan yang dipelihara dengan rapi.
"Suami Ibu pernah cerita soal... pekerjaan sampingan? Apa pun yang berubah di tahun terakhir?" tanyanya hati-hati.
Sarni diam. Jendela rumah itu berderit ditiup angin. "Berubah itu iya," katanya akhirnya, pelan. "Tahun lalu Mas Karsana senang sekali. Bilang rezeki kita mau berubah. Ada yang ngasih kerjaan bagus, katanya, kontrak panjang, gaji naik, truk sendiri nanti. Saya tanya kerjaan apa, dia bilang nanti saja, surprise." Ia tertawa kecil, dan tawanya patah di ujung. "Surprise-nya malah itu. Tol Cipularang, jam dua pagi."
Anak sulung Sarni, lelaki sepuluh tahun dengan potongan rambut yang dikerjakan ibunya sendiri, duduk di ambang pintu sambil pura-pura mengerjakan PR, dan setiap kali nama ayahnya disebut, pensilnya berhenti. Maharani memperhatikan hal-hal seperti itu sekarang; di meja-meja underwriting dulu, ia hanya melihat kolom tanggungan dua jiwa. Di rumah papan ini, kolom itu punya wajah, punya pensil yang berhenti, punya seragam yang warnanya menyerah.
Maharani menunggu. Orang yang sedang membuka luka harus diberi ruang, bukan pertanyaan.
"Saya sampai sekarang tidak habis pikir, Mbak. Mas Karsana itu dua belas tahun bawa truk. Dia itu kalau ngantuk berhenti, selalu berhenti, itu pantangannya. Dia bilang, nyawa itu cuma satu, muatan bisa telat." Sarni memandang foto suaminya di dinding, pigura pasar malam. "Terus kata polisi dia mengantuk. Ya sudah, saya terima. Orang miskin itu biasa disuruh terima."
Kata-kata itu masuk ke Maharani lebih dalam dari yang ia siapkan. Orang miskin itu biasa disuruh terima. Ia teringat dirinya di ruang sidang, enam tahun lalu, menolak terima dan dihukum karenanya. Perbedaan antara dirinya dan Sarni tiba-tiba terasa bukan soal kecerdasan atau keberanian, melainkan soal siapa yang sempat membaca tabel dan siapa yang tidak.
Selama ini dendamnya punya alamat yang jelas: lima nama, satu dalang, ruang-ruang kantor yang bisa ia bayangkan. Tapi di rumah papan ini, dendam itu bergeser. Kejahatan mesin itu ternyata bukan cuma yang dilakukan kepadanya dan Arga. Kejahatan itu adalah ini: perempuan yang mencuci pakaian tetangga sambil meminta maaf karena tehnya cuma satu gelas, sementara di suatu rekening, kematian suaminya sudah jadi laba bersih yang dibagi-bagi.
Arga bukan satu-satunya. Ia bukan satu-satunya. Dan itu mengubah segalanya — bukan mengecilkan lukanya, melainkan menempatkannya di peta yang lebih besar, di mana dendam pribadi mulai tampak seperti kemewahan.
Sebelum pamit, ia bertanya satu hal lagi, masih dengan topi surveinya. "Yang menawari suami Ibu kerjaan itu... Ibu pernah ketemu?"
Sarni mengangguk. "Sering ke sini kok, dulu. Namanya Pak Jalu. Orangnya ramah, selalu bawa oleh-oleh buat anak-anak. Dia yang katanya ngurus semua, kontrak, surat-surat. Mas Karsana percaya banget sama dia. Dia itu kayak... apa ya, kayak agen. Yang nyari orang buat kerjaan-kerjaan bagus. Tetangga saya, si Dadang yang kenek, juga pernah diajak." Ia mengangkat bahu. "Habis Mas Karsana meninggal, Pak Jalu tidak pernah ke sini lagi. Saya kira dia sungkan. Atau sibuk. Orang baik kan banyak kerjaannya."
Maharani menyimpan tehnya, menyalami tangan kasar perempuan itu, dan berjalan keluar gang tanah dengan langkah yang lebih lambat dari langkah datangnya. Di kepalanya, tabelnya bertambah satu kolom baru, dan kolom itu membuat seluruh peta berubah bentuk.
Perekrut.
Selama ini ia mengira korban dipilih dari data, dari spreadsheet di ruangan ber-AC. Ternyata ada manusianya juga — orang lapangan yang datang ke gang-gang, membawa oleh-oleh untuk anak, menawarkan harapan, menandatangani kontrak yang salah satu klausanya adalah polis jiwa yang tidak pernah dijelaskan. Orang yang tugasnya membuat calon korban berterima kasih.
Pak Jalu. Agen lapangan. Tangan pertama mesin yang menyentuh korban, jauh sebelum kantor, jauh sebelum visum.
Dan kalau Dadang si kenek juga pernah diajak — Maharani mempercepat langkahnya ke motor — maka sekarang, mungkin sekarang ini juga, premi atas nama orang lain sedang dibayar, dan jendelanya sedang berjalan.