Perantara itu bernama Pak Kosim, pensiunan pegawai rumah sakit yang kini menghidupi masa tuanya sebagai calo apa saja: kavling, surat kendaraan, dan — menurut informan Dani — kadang-kadang "dokumen kesehatan yang fleksibel". Maharani menemuinya di warung soto sebelah klinik, mengaku sebagai ibu dari pemilik yayasan panti yang butuh visum rutin untuk keperluan asuransi penghuni.
"Sifatnya khusus, Pak," katanya, menyorongkan amplop tipis, uang konsultasi yang tidak perlu diberi nama. "Yayasan kami kecil. Kalau tiap visum harus sesuai prosedur rumah sakit besar, kami habis di biaya. Kami butuh dokter yang... mengerti keadaan."
Kosim menimbang amplop itu dengan jari-jari yang sudah ahli menimbang. "Dokter yang mengerti keadaan itu banyak, Bu. Tapi yang tanda tangannya masih dihargai pengadilan dan asuransi, itu sedikit." Ia menyeringai. "Kebetulan saya kenal satu."
Tarif Kosim lima belas persen dari nilai kontrak pertama, dibayar di muka separuh, tanpa kuitansi, tanpa nama yayasan disebut di telepon. "Aturan saya sederhana, Bu," katanya sambil melipat amplop ke dalam saku kemeja batiknya yang lusuh. "Saya cuma mengenalkan. Kalau nanti ada apa-apa, kita tidak pernah ketemu. Di dunia ini, yang mahal itu bukan tanda tangan dokter. Yang mahal itu perkenalan yang aman." Maharani menyetujuinya tanpa menawar — orang yang terlalu rajin menawar calo justru diingat.
Tiga hari kemudian, pertemuan diatur di ruang karaoke keluarga yang sepi siang hari — pilihan Kosim, tempat yang menurutnya netral dan tidak punya kamera. Maharani datang dengan kacamata dan rambut disanggul, map berisi proposal yayasan fiktif yang Dani siapkan sampai ke kop dan stempelnya. Di seberang meja, Sutadi duduk dengan jas putih diganti kemeja batik, dan tangannya tidak bisa diam.
Dari kalimat pertama, Maharani tahu dugaannya benar: dokter ini sudah sering melakukan ini.
Sutadi tidak bertanya apa yayasan itu, tidak meminta legalitas, tidak menyinggung etika. Ia langsung ke hal praktis: berapa visum per bulan, jenis kematian apa yang biasa ditangani, dan — ia menurunkan suaranya di sini — apakah ada kebutuhan "penyesuaian temuan". Penyesuaian temuan. Eufemisme itu keluar dari mulutnya selancar orang menyebut harga parkir.
Maharani menawar dua juta per visum, dan melihat mata Sutadi bergerak cepat menghitung — hutang berapa yang lunas, berapa bulan pinjaman ilegal itu bisa diam. Lelaki itu mengangguk terlalu cepat untuk seorang profesional, lalu mencoba menutupinya dengan batuk.
Masih aktif, catat Maharani dalam hati, dingin seperti menyimpan data. Masih melayani. Mesin tidak perlu memaksanya lagi; ia sudah jadi pasar yang menjual dirinya sendiri.
Lalu terjadi hal yang tidak ada dalam rencananya.
Mereka sudah hampir selesai — jadwal pertemuan berikut, nominal uang muka — ketika Sutadi, yang sejak tadi menahan sesuatu di balik tangannya yang tidak diam, tiba-tiba berkata, "Bu... yayasan Ibu ini, urusannya cuma visum biasa, kan? Tidak ada yang... aneh-aneh?"
"Aneh bagaimana, Dokter?"
Sutadi menelan ludah. Matanya menyapu ruang karaoke, ke pintu, ke dinding kedap suara. "Saya tanya bukan apa-apa. Cuma... akhir-akhir ini saya tidak mau ambil pekerjaan yang bukan-bukan. Saya sudah tua. Saya mau yang aman saja."
Maharani mencondongkan badan, memainkan peran ibu yayasan yang hangat dan polos. "Dokter kelihatannya capek. Ada masalah di tempat lama?"
Dan lelaki itu — mungkin karena ruangan kedap suara, mungkin karena dua juta per visum membuatnya ingin percaya, mungkin karena orang yang menyimpan takut terlalu lama akan bicara kepada siapa saja yang bertanya dengan nada iba — bercerita.
"Bukan tempat lama," katanya pelan. "Masih sekarang. Ada... pihak, yang kadang minta visum. Dulu saya kira sekali dua kali, bantu orang. Ternyata tidak berhenti." Tangannya meremas ujung meja. "Belakangan ini ada lagi. Tiga bulan lalu. Kecelakaan tunggal, katanya, sopir truk, jelas-jelas. Saya disuruh tanda tangan visum yang... ya sudahlah. Saya tanda tangan. Saya selalu tanda tangan, itu masalahnya." Ia tertawa pendek, suara paling tidak lucu yang pernah Maharani dengar. "Tapi yang itu beda. Saya lihat foto TKP-nya. Sopir itu tidak kecelakaan, Bu. Dan kalau itu bukan kecelakaan, berarti saya bukan cuma bohong di kertas. Saya bantu orang membunuh."
Ruangan itu tiba-tiba terasa lebih kedap dari yang diiklankan.
Maharani menjaga wajahnya tetap datar, ibu yayasan yang tidak paham urusan besar, dan bertanya dengan nada sungkan, "Terus Dokter mau bagaimana?"
"Saya mau berhenti. Itu sebabnya saya senang ada yayasan Ibu. Visum biasa, aman, halal." Sutadi mengusap wajahnya. "Cuma saya takut. Orang-orang itu... yang terakhir yang banyak tanya soal mereka, penyidik perempuan itu, Ibu baca berita kan? Bunuh diri katanya." Ia menatap Maharani, dan untuk sesaat mata dokter tua itu adalah mata seseorang yang tahu persis bahwa dirinya sedang berdiri di antrean. "Saya kenal dia. Kami pernah satu berkas, dulu. Orang yang banyak tanya tidak bunuh diri, Bu. Orang yang banyak tanya dibunuh."
Maharani membungkuk, mengucapkan terima kasih dengan suara ibu yayasan yang lembut, dan menjanjikan uang muka minggu depan. Di luar, siang terasa terlalu terang. Ia berdiri di parkiran karaoke itu cukup lama, mencerna dua hal yang baru saja dibelinya dengan harga satu amplop tipis.
Satu: Sutadi masih aktif dan bisa dibeli — pintunya terbuka.
Dua: ada visum lain. Tiga bulan lalu. Sopir truk, kecelakaan tunggal yang bukan kecelakaan.
Mesin itu sudah membunuh lagi, dan korban terbarunya bahkan belum punya nama di tabel Maharani.