“Kamu mau bayar operasi ibumu, atau mau lihat dia mati besok pagi?”
Kalimat itu jatuh dari bibir Arsen Adijaya seperti vonis. Dingin. Final. Nggak ada ruang nego.
Aku menatap pria di hadapanku. Jas hitam, jam tangan yang harganya bisa buat beli rumahku 3 kali, dan sorot mata yang kosong. Kayak lagi ngelihat laporan keuangan, bukan manusia.
Di antara kami ada meja marmer. Di atasnya: satu map biru berisi tagihan rumah sakit 1,2 miliar, dan satu map hitam. Kontrak nikah. Namanya udah bertengger manis di sana: Arsen Adijaya.
Tanganku terkepal di bawah meja. Kuku nancep ke telapak sampai perih. Tiga hari aku nggak tidur. Tiga hari aku jaga Ibu di ICU, dengerin bunyi mesin yang jadi satu-satunya bukti Ibu masih napas.
“Kenapa saya?” Suaraku serak. Aku benci karena kedengeran lemah.
Arsen bersandar. Dia nggak jawab langsung. Dia malah ngambil pena emas dari sakunya, diputer-puter di antara jari-jarinya. Gerakannya santai, tapi justru itu yang bikin tengkukku dingin.
“Karena kamu satu-satunya perempuan di Jakarta yang nggak pernah kirim proposal ‘kebetulan ketemu’ ke meja saya, Naura Maheswari.” Dia nyebut nama lengkapku. Lengkap dengan penekanan di marga. “Semua orang mau jadi Nyonya Adijaya. Kamu? Kamu bahkan nggak mau noleh kalau aku lewat.”
Aku ketawa. Pendek. Pahit. “Jadi Anda milih saya karena saya nggak sudi sama Anda? Logika Anda rusak.”
“Logika saya sempurna.” Dia mencondongkan badan. Seketika, aroma kayu gaharu dan bahaya nyerbu penciumanku. “Saya butuh istri untuk satu tahun. Untuk acara amal, untuk foto keluarga di majalah, untuk nutup mulut dewan direksi yang bilang saya nggak ‘stabil’. Saya butuh boneka yang nggak bakal jatuh cinta, lalu nuntut harta gono-gini.”
Dia dorong map hitam itu ke arahku.
“Syaratnya sederhana.”
Aku buka halaman pertama. Mataku langsung scan.
KONTRAK PERNIKAHAN
Pihak Pertama: Arsen Adijaya
Pihak Kedua: Naura Maheswari
Durasi: 365 hari sejak tanggal penandatanganan
Kewajiban Pihak Kedua:
1. Tinggal di kediaman yang ditentukan Pihak Pertama. 2. Menghadiri seluruh acara sosial sebagai Nyonya Adijaya. 3. Menjaga nama baik Pihak Pertama. 4. Dilarang menjalin hubungan romantis/fisik dengan pihak lain selama kontrak.
Hak Pihak Kedua:
1. Biaya operasi dan perawatan Ibu ditanggung penuh. 2. Seluruh utang almarhum ayah lunas. 3. Kompensasi 5.000.000.000 Rupiah setelah kontrak selesai.
5 miliar.
Angka itu kayak dipukul ke mukaku. Dengan uang segitu, aku bisa bawa Ibu berobat ke Singapura. Bisa buka toko kue lagi. Bisa hidup tanpa dikejar debt collector.
“Murah banget,” kataku sinis. Padahal jantungku mau copot. “Jadi selingkuhan Anda aja sekalian. Nggak perlu repot-repot nikah.”
Plak.
Pena emas itu dia letakkan di meja. Keras. Untuk pertama kalinya, rahang Arsen mengeras. Ada otot bergerak di sana.
“Saya. Tidak. Suka. Berbagi.” Setiap kata dia tekan. “Kalau ada yang nyentuh milik saya, orang itu hilang. Kalau kamu tidur dengan saya, Naura, nama kamu harus Adijaya. Di KTP, di nisan, di mana-mana. Itu harga mati.”
Ancaman itu nggak diteriakin. Malah dibisikin. Dan itu 10x lebih nakutin.
Aku alihkan pandang, lanjut baca. Sampai mataku berhenti di halaman terakhir.
Pasal 9: Ketentuan Khusus
Selama kontrak berlangsung, Pihak Kedua wajib melayani Pihak Pertama secara lahir dan batin sebagai suami istri yang sah. Pihak Pertama berhak menuntut haknya kapan pun, di mana pun. Pelanggaran oleh Pihak Kedua akan dikenakan denda 10x lipat dari nilai kompensasi.
50 miliar.
Darahku berdesir. Ini bukan kontrak nikah. Ini surat jual-beli.
“Anda gila,” bisikku.
“Dan kamu kepepet.” Dia berdiri. Badannya tinggi ngejulang, nutupin cahaya lampu. “Rumah sakit kasih waktu sampai jam 7 pagi besok buat bayar DP donor hati. Sekarang jam 7 malam. Kamu punya 12 jam, Naura.”
Kayak disetir, HP di tasku geter. Layarnya nyala. ICU RS Medika - Suster Winda.
Tanganku gemetar angkat telepon.
“Mbak Naura? Kondisi Ibu menurun. Dokter bilang, kalau operasi nggak dilakukan dalam 12 jam, kami nggak bisa jamin...”
Suaranya hilang ditelan dengung di kupingku.
Aku tutup telepon. Nata napas. Nata harga diri yang udah nggak ada sisa.
Arsen masih berdiri di situ. Nunggu. Nggak ada simpati di matanya. Cuma kalkulasi.
“Kalau saya menolak?” tanyaku.
“Silakan.” Dia angkat bahu. “Saya bisa cari perempuan lain dalam 10 menit. Tapi ibumu…” Dia nggak lanjutin. Nggak perlu.
Bajingan.
Aku tarik napas panjang. Bau ruangan ini tiba-tiba bikin mual. Bau uang, bau kekuasaan, bau keputusasaan.
Lalu, dengan jari yang dingin dan bergetar, aku raih pena emas itu.
Beratnya bukan main. Kayak ngegenggam masa depanku sendiri.
Aku tatap Arsen sekali lagi. Pria yang bakal jadi suamiku. Pria yang bakal jadi penjariku.
“Kamu bakal nyesel,” kataku. Entah ke dia, entah ke diriku sendiri.
Arsen cuma menyeringai. Tipis. Bahaya. “Kita lihat saja, Nyonya Adijaya.”
Dan di bawah lampu temaram kantor lantai 88 itu, aku, Naura Maheswari, menandatangani kontrak 365 hariku dengan iblis.
Tepat saat tinta menyentuh kertas, ponselku berdering lagi.
Kali ini dari nomor tak dikenal.
Isi pesannya cuma satu kalimat:
“JANGAN TANDA TANGAN. DIA YANG BUNUH AYAHMU.”