Hubungan Allea dan Vino memasuki bulan ketiga ketika Sandra kembali menghubungi Vino. Ia akan berada di kota untuk urusan kerja dan meminta bertemu sebentar.
Vino memberi tahu Allea sebelum menjawab. 'Aku ingin mendengar kabarnya, tapi kalau ini membuatmu—'
'Jangan jadikan aku penentu apakah kamu boleh bertemu mantanmu,' potong Allea. 'Putuskan apa yang kamu butuhkan, lalu jujur kepadaku.'
Vino memilih bertemu Sandra di tempat umum selama satu jam. Ia tidak mengajak Allea ikut sebagai pengawas.
Sandra mengatakan pekerjaannya berjalan baik dan dirinya mengikuti konseling. Ia meminta maaf lagi atas pengkhianatan mereka dahulu, tetapi tidak meminta kembali.
'Aku sempat berharap kita bisa mulai lagi,' katanya. 'Sekarang aku tahu harapan itu tidak boleh menjadi alasan mengganggu hidupmu.'
Vino mengaku sedang mengenal Allea secara serius. Sandra menerima meski matanya berkaca-kaca.
Mereka berpisah tanpa pelukan. Vino menceritakan pertemuan kepada Allea malam hari, tetapi tidak membuka detail yang Sandra minta tetap pribadi.
'Apa kamu sedih?' tanya Allea.
'Iya. Sebuah kemungkinan benar-benar selesai hari ini.'
Allea tidak merasa dikalahkan oleh kesedihan itu. Ia menemani Vino minum teh dan membiarkan kenangan lama memperoleh tempat tanpa menjadi ancaman.
Namun beberapa hari kemudian, seorang rekan mengatakan Vino terlihat bersama Sandra. Gosip kantor membuat Allea marah meski sudah mengetahui pertemuan tersebut. Ia menyadari rasa aman yang dibangun masih dapat terguncang oleh pandangan orang.
'Aku percaya kepadamu, tapi aku benci merasa ditertawakan,' katanya kepada Vino.
'Apa yang kamu butuhkan?'
'Waktu malam ini. Besok kita bicara.'
Vino menghormati. Keesokan hari mereka mendiskusikan apakah perlu mengumumkan hubungan kepada tim. Mereka memutuskan memberi tahu Ratna dan bagian sumber daya manusia saja, bukan membuat pengumuman kantor.
Ratna mengingatkan kebijakan konflik kepentingan dan memindahkan satu tanggung jawab tambahan dari Vino. Tidak ada hukuman karena hubungan pribadi, tetapi batas kerja diperjelas.
Di rumah, Allea menceritakan kejadian kepada Arini. Ibunya tidak langsung mengatakan semua lelaki dapat dipercaya atau menyuruhnya meninggalkan Vino.
'Apa yang kamu rasakan setelah kalian bicara?'
'Masih takut, tapi tidak merasa dibohongi.'
'Ketakutan tidak selalu berarti ada bahaya saat ini. Kadang ia datang dari pengalaman lama.'
Allea teringat dirinya tumbuh melihat Arini ditinggalkan. Ia juga pernah menerima perhatian membingungkan dari Andreas. Tidak aneh bila hubungan membuatnya waspada.
Vino mengajak Allea bertemu keluarganya secara resmi. Allea menolak untuk saat itu karena belum siap hubungan bergerak lebih jauh setelah konflik. Vino menerima dan mengganti rencana dengan makan berdua.
Beberapa minggu kemudian, Allea sendiri yang meminta pertemuan keluarga. Ia ingin keputusan datang saat rasa takut mereda, bukan sebagai cara mencegah Vino kembali kepada Sandra.
Sandra tetap menjadi bayangan dari masa lalu Vino, sebagaimana Andreas pernah menjadi bayangan dalam hidup Allea. Mereka tidak perlu menghapus bayangan. Mereka hanya perlu memastikan arah langkah ditentukan oleh orang yang berjalan sekarang.