Proses perubahan akta kelahiran Allea memerlukan sidang penetapan. Dokumen pernikahan Arini dan Wiranto, hasil DNA, serta kesaksian keduanya telah disiapkan.
Allea datang mengenakan pakaian sederhana. Wiranto hadir lebih awal bersama pengacaranya, tetapi ia tidak duduk di samping Allea sebelum dipersilakan.
Hakim menanyakan alasan pengakuan baru dilakukan setelah Allea dewasa.
Wiranto menjawab tanpa menyalahkan ayahnya saja. Ia mengakui berhenti mencari dan tidak memeriksa laporan keluarga.
'Saya gagal menjalankan tanggung jawab sebagai ayah,' katanya. 'Penetapan ini tidak menghapus kegagalan tersebut. Saya hanya ingin catatan hukum tidak melanjutkan kebohongan.'
Arini memberikan keterangan mengenai kehamilan, perceraian, dan ancaman yang diterimanya. Suaranya sempat terhenti ketika mengingat kemungkinan Allea diambil, tetapi ia menyelesaikan kesaksian.
Allea ditanya apakah pengakuan dilakukan atas keinginannya.
'Iya. Saya ingin identitas hukum sesuai kenyataan biologis. Namun hubungan pribadi dengan Pak Wiranto akan dibangun terpisah dan tidak ditentukan putusan ini.'
Hakim mengabulkan permohonan. Nama Wiranto Putra akan dicatat sebagai ayah, tanpa mengubah nama lengkap Allea yang telah digunakannya sejak lahir.
Di luar ruangan, Wiranto menawarkan makan siang untuk merayakan. Allea mengingat undangan yang pernah diberikannya dan menyetujui, tetapi meminta tempat dipilih Arini.
Mereka makan di warung kecil yang dahulu sering dikunjungi Arini dan Allea. Wiranto kesulitan duduk di kursi plastik yang rendah. Allea hampir tertawa melihatnya.
'Ayah tidak pernah makan di tempat seperti ini?' tanyanya.
'Pernah, saat masih kuliah. Setelah itu mungkin aku terlalu terbiasa dilayani.'
Arini memesan tiga porsi makanan tanpa meminta menu. Ia masih mengingat hidangan kesukaan Wiranto ketika mereka menikah.
'Kamu masih ingat?' tanya Wiranto.
'Ingatan tidak selalu hilang hanya karena perasaan selesai.'
Kalimat itu menjaga Wiranto agar tidak memberi makna romantis pada perhatian kecil tersebut.
Selama makan, Allea bertanya apakah Wiranto memiliki anak lain. Lelaki itu menjelaskan pernikahan keduanya tidak menghasilkan anak dan telah berakhir beberapa tahun lalu. Thalita bukan pasangan resminya.
'Aku tidak bertanya untuk mencari posisi sebagai pewaris tunggal,' kata Allea.
'Aku tahu.'
'Aku ingin memahami keluarga yang secara hukum sekarang tercantum dalam hidupku.'
Wiranto menawarkan memperkenalkannya kepada beberapa kerabat, tetapi Allea belum siap.
'Satu per satu. Jangan buat acara besar.'
'Baik.'
Setelah makan, Wiranto membayar hanya setelah Arini dan Allea menyetujuinya sebagai pihak yang mengundang. Ia tidak menyelipkan uang atau hadiah.
Di perjalanan pulang, Allea memandangi salinan penetapan.
'Apa sekarang aku harus memakai nama Putra?' tanyanya.
'Tidak,' jawab Arini. 'Nama yang kamu pakai selama ini tetap milikmu.'
Allea lega. Ia ingin kebenaran diakui, tetapi tidak ingin identitasnya ditelan nama keluarga besar.
Kabar putusan bocor secara terbatas. Wiranto menolak konferensi pers. Pernyataan pengacaranya hanya mengonfirmasi penetapan dan meminta media tidak mengganggu Allea.
Di kantor, Ratna tidak memberikan ucapan selamat yang berlebihan. Ia hanya meminta Allea memperbarui data administrasi bila telah menerima akta baru.
'Laporan sekolah tetap harus selesai Jumat,' tambahnya.
Allea tersenyum. 'Siap.'
Kewajiban biasa itu membuat hidup terasa tetap berada di tangannya. Namanya memperoleh satu keterangan baru, tetapi meja kerja, kesalahan, dan impiannya tidak berubah menjadi milik Wiranto.