Keesokan hari, Allea datang ke ruang Andreas bersama Sandra. Ia sengaja meminta Sandra hadir agar percakapan mereka tidak kembali menjadi sumber gosip.
Andreas berdiri ketika keduanya masuk. Ia tidak meminta Allea duduk di tempat yang dahulu digunakannya untuk menemani menulis surat. Mereka memilih meja rapat kecil di sudut ruangan.
'Saya meminta maaf,' kata Andreas. 'Sejak pertama melihatmu, saya memperlakukanmu berbeda karena kemiripanmu dengan Arini.'
Sandra menatap Allea, baru memahami alasan sikap aneh atasannya.
'Bapak memeluk saya tanpa izin,' jawab Allea. 'Bapak mengajak saya keluar pada jam kerja dan membuat orang-orang mengira saya mendapat perlakuan khusus.'
'Semua itu salah saya.'
'Saya juga membiarkannya beberapa kali karena merasa Bapak membutuhkan seseorang. Tapi kebutuhan Bapak bukan tanggung jawab saya.'
'Benar.'
Andreas menawarkan pemindahan Allea ke divisi lain dengan penilaian kinerja independen. Gajinya tidak berubah dan ia dapat menolak tanpa konsekuensi.
'Saya ingin pindah,' kata Allea. 'Saya tidak mau setiap pekerjaan saya dianggap hadiah dari Bapak.'
Andreas telah menduga jawaban itu. Ia menyerahkan dokumen pemindahan yang masih kosong agar Allea memilih divisi sesuai kemampuan, bukan berdasarkan keinginannya.
Sandra diminta mengawasi proses administrasi. Sebelum pertemuan berakhir, Allea menyampaikan satu hal lagi.
'Perasaan saya kepada Bapak mungkin pernah lebih dari rasa hormat. Tapi sekarang saya tidak tahu apakah itu karena Bapak terus membuat saya merasa istimewa.'
Andreas menunduk. 'Saya tidak akan meminta jawaban atau hubungan apa pun darimu. Kenali perasaanmu tanpa saya memengaruhinya.'
Allea keluar bersama Sandra. Dadanya terasa berat, tetapi langkahnya lebih ringan. Untuk pertama kalinya, batas antara dirinya sebagai Allea dan bayangan Arini telah disebutkan dengan jelas.
Di koridor, Sandra meminta maaf karena pernah menjawab gosip dengan kalimat yang membuat Allea merasa direndahkan.
'Aku marah dan cemburu waktu itu,' katanya. 'Tapi itu bukan alasan.'
'Kita semua terlalu sibuk menebak isi kepala Pak Andreas,' jawab Allea. 'Sekarang aku tidak mau lagi.'
Di tempat lain, Wiranto mendatangi rumah Arini meski sudah dilarang. Ia datang sendirian dan berdiri di luar pagar.
Arini tidak membukakan pintu. Ia berbicara dari teras, sementara Allea berdiri di dalam rumah.
'Aku ingin melihat bukti bahwa keluargaku pernah mengirim utusan,' kata Wiranto.
'Bukan hari ini.'
'Kalau surat itu bukan dariku, aku juga korban kebohongan.'
'Kamu tetap memilih tidak mencari kami dengan sungguh-sungguh.'
Wiranto terdiam. 'Beri aku kesempatan memperbaiki hubungan dengan Allea.'
'Kesempatan itu bukan pemberianku. Tanyakan kepadanya dan hormati kalau jawabannya tidak.'
Allea keluar setelah mendengar percakapan tersebut. Ia berdiri di samping ibunya.
'Aku bersedia bertemu sekali,' katanya. 'Di tempat umum dan ditemani Ibu. Aku ingin mendengar versi Ayah, bukan menerima uang.'
Wiranto mengangguk cepat. 'Kapan pun kamu siap.'
'Jangan ajak Thalita. Jangan bawa pengacara. Dan jangan bicara seolah kita keluarga bahagia yang terpisah karena salah paham kecil.'
'Aku mengerti.'
Setelah Wiranto pergi, Arini memeluk Allea.
'Kamu tidak harus melakukan ini demi Ibu.'
'Aku melakukannya demi diriku. Aku lelah membenci seseorang yang bahkan tidak pernah kudengar penjelasannya.'
Sore harinya, Arini kembali ke Rumah Cinta untuk membaca surat kedua belas. Andreas telah menyiapkan ruang, tetapi tidak menunggu di dalam. Ia hanya meninggalkan teh dan pesan singkat: Bacalah sebanyak yang kamu inginkan. Saya berada di kantor sebelah jika dibutuhkan.
Arini tersenyum melihat kata saya. Gilang sedang berusaha mengenalnya dari awal, bukan menariknya kembali ke masa remaja.
Ia membaca sampai matahari hampir tenggelam. Surat-surat tersebut tidak lagi terasa seperti tuntutan. Setiap lembar menjadi percakapan yang tertunda, dan Arini mulai menulis jawaban pada buku catatan miliknya sendiri.
Surat pertama jawabannya berbunyi: Gilang, aku masih hidup. Tetapi sebelum kita berbicara tentang cinta, izinkan aku belajar memiliki hidupku sendiri.
Arini meletakkan pena. Di luar pintu, Andreas mendengar gerakan kursi tetapi tidak masuk. Ia menunggu sampai Arini sendiri membuka pintu.
Mereka berdiri berhadapan dalam cahaya sore.
'Aku akan kembali minggu depan,' kata Arini.
'Aku akan menyediakan tempat.'
'Tidak perlu menutup seluruh perpustakaan. Aku tidak ingin hidupmu berhenti karena kedatanganku.'
Andreas mengangguk. 'Baik.'
Arini berjalan pergi membawa buku catatan, bukan kotak surat. Andreas memandangnya sampai menghilang di balik pintu, lalu kembali ke ruangannya.
Pertemuan mereka tidak berakhir dalam pelukan. Allea belum berdamai dengan Wiranto, Arini belum selesai membaca surat, dan Andreas belum sepenuhnya memahami perasaannya terhadap dua perempuan dengan mata yang sama.
Namun batas-batas baru telah dibuat. Untuk pertama kalinya, mereka dapat melangkah tanpa menjadikan kerinduan, rasa bersalah, atau hubungan darah sebagai alasan mengambil pilihan orang lain.