Tepuk tangan masih menggema ketika Arini berusaha bangkit dari rerumputan. Kedua lututnya terasa lemah. Allea segera memegang lengannya, tetapi pandangan Arini tidak beralih dari sosok yang berdiri di atas panggung.
Gilang Andreas.
Puluhan tahun telah mengubah garis wajah dan warna rambut laki-laki itu. Namun cara Gilang menyapu ruangan dengan pandangan gelisah masih sama. Arini mengenal kebiasaan tersebut. Dahulu Gilang selalu mencarinya di antara rak-rak perpustakaan sekolah.
'Kita pulang saja,' bisik Arini.
Allea terkejut. 'Kita baru tiba, Bu.'
'Ibu tidak sanggup berada di sini.'
Arini berbalik, tetapi ujung sepatunya tersangkut rerumputan. Tubuhnya kembali limbung. Allea menahannya sembari memanggil petugas yang tadi sempat datang.
Keributan kecil itu terlihat oleh Bima Sakti dari sisi panggung. Ia meminta pembawa acara mengambil alih, lalu turun menghampiri mereka.
'Apa beliau sakit?' tanyanya.
'Ibu saya hanya kelelahan,' jawab Allea. 'Tolong jangan membuat orang-orang panik.'
Bima menatap wajah Arini. Napasnya tertahan. Ia pernah melihat wajah itu dalam satu foto lama milik Andreas, foto yang disimpan di antara puluhan ribu surat.
'Nyonya... Arini?'
Arini mengangkat wajah. 'Anda siapa?'
'Saya Bima. Sahabat Gilang.'
Nama itu membuat tangan Arini semakin dingin. Allea memandang keduanya bergantian.
'Ibu mengenal Pak Andreas?' tanyanya.
Arini tidak menjawab. Air matanya justru jatuh.
Di atas panggung, Andreas baru selesai menerima ucapan selamat dari pembawa acara. Ia melihat Bima berdiri di halaman bersama Allea. Rasa kesalnya karena Allea terlambat langsung hilang ketika matanya menangkap wanita berbaju putih di samping gadis itu.
Waktu seperti berhenti.
Buku dalam tangannya terjatuh.
Andreas menuruni panggung tanpa memedulikan panggilan panitia. Para tamu menoleh, beberapa kamera mengikuti gerakannya. Bima segera memberi isyarat kepada petugas agar menahan wartawan dan membentuk ruang di sekitar mereka.
Andreas berhenti beberapa langkah dari Arini. Mulutnya terbuka, tetapi tidak ada suara yang keluar. Ia telah menyiapkan ribuan kalimat selama puluhan tahun. Pada saat wanita itu benar-benar berdiri di hadapannya, seluruh kalimat tersebut menghilang.
'Arini,' ucapnya akhirnya.
Arini menutup mulut dengan telapak tangan. Suara itu sama dengan suara dari panggung, tetapi kini tidak melewati pengeras suara. Suara itu datang dari masa lalu yang berdiri begitu dekat.
'Gilang.'
Allea menoleh cepat. Ia belum pernah mendengar ibunya menyebut nama Andreas dengan kelembutan seperti itu.
Andreas hendak melangkah, lalu berhenti. Ia tidak berani menyentuh Arini. 'Apa benar ini kamu?'
'Aku juga tidak tahu apakah ini nyata.'
Andreas tertawa pendek di antara tangisnya. 'Aku mencarimu.'
'Aku mendengar semuanya.' Arini melirik panggung. 'Surat-surat itu... untukku?'
'Semuanya.'
Kamera mulai mengarah dari kejauhan. Bima menyadari pertemuan itu dapat berubah menjadi tontonan. Ia meminta petugas membawa mereka menuju salah satu ruangan dalam perpustakaan Rumah Cinta.
'Kita bicara di dalam,' katanya. 'Bukan di depan semua orang.'
Andreas mengangguk, tetapi Arini mundur satu langkah.
'Aku tidak bisa.'
'Ibu,' ujar Allea, 'setidaknya duduklah dahulu. Wajah Ibu pucat.'
Andreas baru menyadari Allea berdiri di antara mereka. Pandangannya berpindah dari mata gadis itu kepada mata Arini. Kesamaan yang selama ini membuatnya kehilangan ketenangan kini memberikan jawaban yang lebih mengguncang.
'Allea adalah putrimu?' tanyanya.
Arini memegang tangan Allea erat. 'Iya.'
Andreas menghitung usia gadis itu dalam pikirannya, lalu menatap Arini dengan pertanyaan yang tidak sanggup ia ucapkan di tempat terbuka.
Allea menangkap perubahan wajah bosnya. 'Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa Bapak mengenal ibu saya?'
'Allea, nanti Ibu jelaskan,' kata Arini.
'Ibu selalu mengatakan nanti.' Allea menarik tangannya. 'Buku ini memakai nama Ibu. Pak Andreas mencarinya selama puluhan tahun. Aku berhak tahu mengapa.'
Arini terdiam. Di belakang mereka, acara peluncuran tetap berjalan dengan Bima mengarahkan panitia. Namun bagi keempat orang itu, suara panggung telah berubah menjadi dengung jauh.
Andreas membuka pintu perpustakaan. 'Kita tidak harus menyelesaikan semuanya hari ini. Tapi tolong, masuklah. Aku tidak ingin kamu jatuh di sini.'
Arini menatap pintu kaca bertuliskan Rumah Cinta. Tempat itu dibangun dari mimpi yang pernah ia bagi dengan Gilang ketika masih berseragam sekolah.
Ia akhirnya melangkah masuk bersama Allea.
Di ruang baca pribadi, Andreas mempersilakan keduanya duduk. Tangannya gemetar saat menuangkan air. Sebagian tumpah ke meja.
'Saya yang menuangkan,' kata Allea refleks.
Andreas tidak melepaskan gelas. Matanya masih tertuju kepada Arini. 'Selama ini aku mengira kamu mungkin sudah meninggal.'
'Sebagian diriku memang mati saat itu,' jawab Arini.
'Kenapa kamu tidak pernah menghubungiku?'
Pertanyaan itu membuat Arini menegang.
'Karena aku sudah menikah, Gilang. Karena hidupku bukan lagi milikku.'
Allea membeku. Selama ini ibunya tidak pernah menceritakan kekasih sebelum pernikahan. Kini semua tatapan aneh Andreas kepadanya memiliki alasan yang menakutkan sekaligus menyedihkan.
Pintu ruangan tiba-tiba terbuka. Wiranto Putra berdiri di sana dengan wajah pucat. Thalita berada beberapa langkah di belakangnya.
Pandangan Wiranto jatuh kepada Arini, lalu Allea.
'Kalian?' desisnya.
Allea langsung berdiri. Kebencian yang selama ini disimpannya kembali menyala.
'Akhirnya kita bertemu lagi,' katanya. 'Ayah.'